Di tengah tabuhan gamelan pengiringnya, dua belas penari kuda lumping
"Turonggo Bekso" Kecamatan Gamping, Daerah Istimewa Yogyakarta,
membentuk konfigurasi mengerumuni pawangnya di arena pementasan tepian
alur Kali Boyong, kawasan Gunung Merapi.
Bunga mawar warna merah
dan putih ditaburkan bersamaan dengan satu kali lecutan cemeti cukup
keras di tengah gerak konfigurasi tarian tradisional itu.
Sekejap
kemudian, para penari kuda lumping yang pentas di kompleks "Oemah
Petroek", Karangkletak, Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta itu pun menggelepar ke tanah.
Mereka kesurupan,
beberapa kru kelompok kesenian kuda lumping itu menjaga satu per satu
mereka, sedangkan para penabuh gamelan terus memainkan nomor-nomor
pengiring tarian dengan lantunan tembang-tembangnya itu. Mereka yang
kesurupan itu terkesan membentuk gerak tubuh menyerupai beberapa
binatang.
Para penari yang telah dalam balutan kesurupan itu pun
melanjutkan pementasan. Sesekali mereka dilayani oleh kru lainnya saat
ingin meneguk air minum atau makan
apa saja yang dipilihnya, dengan diambilkan dari berbagai sesaji di
atas meja, di satu sudut pementasan beralas tanah dengan rerimbunan
pepohonan setempat
Pementasan itu bagian dari sarasehan
"Kesurupan Kuda Lumping" yang diselenggarakan pengelola Bentara Budaya
Yogyakarta bekerja sama dengan "Oemah Petroek", Kabupaten Sleman.
Pembicara utama sarasehan itu adalah pengajar Jurusan Tari Fakultas Seni
Pertunjukkan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Sumaryono dan
budayawan Komunitas Lima Gunung (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing,
Menoreh) Magelang, Jateng, Sutanto Mendut.
Hadir pada kesempatan
itu, antara lain, Direktur Eksekutif Bentara Budaya Hariadi Saptono,
pengelola "Oemah Petroek" yang juga budayawan G.P. Sindhunata, kalangan
seniman, dan pemerhati budaya terutama berasal dari Yogyakarta dan
beberapa lainnya dari Magelang seperti Joko Pekik, Nasirun, Pramono
Pinunggul, Arahmaiani, dan Yuswantoro Adi.
Selain itu, Ismanto,
Supadi Haryanto, Riyadi, Damtoz Andreas, Dorothea Rosa Herliany, Romo V.
Kirjito, kalangan mahasiswa ISI Yogyakarta, dan mahasiswa program
pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta.
Sindhunata mengatakan bahwa acara itu tidak lepas dari
pernyataan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo beberapa waktu lalu
tentang suatu pementasan kuda lumping di Kota Magelang yang dinilainya
sebagai terjelek sedunia.
Pernyataan Gubernur Jateng itu menuai
reaksi di beberapa daerah karena jenis kesenian tradisional itu tak
hanya berkembang di Jateng. Bahkan disebut Sumaryono bahwa kesenian
tradisional itu tumbuh dan berkembang di desa-desa, antara lain, di
Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Selain itu, para
transmigran berasal dari Jawa di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi juga
mengembangkannya. Kesenian kuda kepang juga ada di Malaysia bagian
selatan karena dibawa oleh orang-orang Jawa yang menetap di daerah itu.
Banyak
sebutan secara berbeda-beda di setiap daerah untuk jenis tarian
tradisional itu seperti kuda lumping, jaran kepang, jatilan, oglek,
incling, ebek, jaranan dor, dan senthe rewe. Namun, inti kesenian itu,
para penari berpasang-pasangan menggunakan kuda kepang dan pedang dengan
gerak tarian menggambarkan suatu perang.
"Kalau protes sudah
lewat tentunya, sekarang acara lebih reflektif. Terima kasih kepada
Bibit Waluyo karena kita bisa membaca bahwa pemimpin kita mencintai
budaya hanya di luar, namun di hati tidak ada. Jatilan tersinggung. Ini
mewakili global yang total menyudutkan seni tradisi," kata Sindhunata.
Kesenian tradisional betapa pun jeleknya, kata dia, tetap hidup dalam masyarakat.
"Ndadi"
Para
pemain kuda lumping yang sudah kesurupan atau biasa disebut "ndadi",
sebagai saat paling menarik dalam pertunjukan kesenian tersebut.
Lazimnya
orang menyebut "ndadi" karena para penari kuda lumping itu kemasukan
roh. Dalam kesenian kuda lumping itu disebut Sumaryono ada peran pawang
dengan aneka sesajinya. Pawang bertugas memasukkan dan mengeluarkan roh
serta mengatur dan mengendalikan adegan "ndadi".
"Adegan ’ndadi’
inilah yang menjadi puncak atau klimaks pertunjukan kesenian jatilan,
karena membuat keelokan yang luar biasa," katanya.
Penari yang
kesurupan, katanya, lebih atraktif dalam menari. Mereka antara lain bisa
makan kaca dan mengupas kelapa dengan gigi. Meskipun belakangan, hal
itu ada teknik tertentu.
Pramono saat berbagi komentar tentang
kuda lumping menyebut bahwa tarian itu belum total disuguhkan jika
gerakan para penarinya masih monoton karena belum kesurupan.
"Setelah
kesurupan, gerakan menjadi dinamis karena penarinya menari keluar dari
aturan yang membelenggu sehingga estetika lebih bagus, improvisasi lebih
tinggi," katanya.
Belakangan, kata Sumaryono, adegan "ndadi"
dalam pentas kuda lumping banyak dihilangkan, terutama pada forum
festival atau lomba yang waktu penampilan dibatasi.
Namun, adegan"ndadi" tetap disuguhkan pada pementasan di desa-desa terkait dengan hajatan warga ataupun acara bersih desa.
Sutanto
Mendut yang juga pengajar program pascasarjana ISI Yogyakarta itu
menyebut sulit mendeskripsikan secara rasional bahwa kesurupan atau
"ndadi" sebagai penari kuda lumping kemasukan roh.
"Kesurupan
karena roh sulit dideskripsikan dengan rasio yang dipelajari secara
keilmuan. Akan tetapi, deskripsi tentang penari yang kesurupan adalah
kemanusiannya. Mereka yang seniman desa itu dengan kesurupannya adalah
interkultural," katanya.
Pada kesempatan itu, dia menyatakan
fenomena menarik terhadap berbagai peristiwa kesurupan yang menimpa para
pelajar saat jam sekolah di berbagai daerah, sedangkan Sumaryono
menyebut kesurupan juga telah berkembang sebagai metaforis.
Di
Komunitas Lima Gunung, kata Sutanto, mereka yang menari kuda lumping
hingga kesurupan itu setiap hari bekerja keras mengolah lahan
pertaniannya. Namun, mereka juga membutuhkan kemenyan saat berkesenian.
Ia
menyebut kesurupan dalam pementasan kuda lumping di desa sebagai tidak
berbahaya, baik terhadap penari maupun masyarakat yang menyaksikannya.
"Kalau
kesurupan identik dengan setan di kota dan hantu di desa, maka
kesurupan di desa tidak membahayakan karena ’setan’ di desa
multikultural. Penari yang sudah kesurupan saat pentas di desa di Gunung
Sumbing, bisa diajak berfoto," katanya.
Lain lagi dengan
pernyataan seorang tokoh Komunitas Lima Gunung, Riyadi, pada sarasehan
"Kesurupan Kuda Lumping" itu, yang menyangkut kesenian masyarakat petani
desanya di kawasan Gunung Merbabu.
Kesenian milik seniman petani
setempat yang kontemporer desa itu tetap memerankan kehadiran pawang
dengan sesaji seperti kembang mawar dan kemenyan dalam pementasannya.
"Untuk
menyembuhkan penari dari kesurupan, cuman saya bisiki dengan kalimat
’Wartawan sudah tidak ada’. Lalu sembuh, semua gembira," katanya
disambut gelak tawa mereka yang mengikuti sarasehan di Pendopo "Oemah
Petroek" Karangkletak itu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar