Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi Merbabu sejak zaman penjajahan Belanda[3] dan dilanjutkan perkembangannya tahun 1960-an[2].Pada saat jaman Pemerintahan Belanda, pemerintah jajahan pada masa lalu melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat[3]. Tarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam[3]. Setelah itu perkembangan Seni Pertunjukan Topeng Ireng berkembang apabila umat Islam membangun masjid atau mushola, sebelum mustaka (kubah) dipasang maka mustaka tersebut akan diarak keliling desa. Kirab tersebut akan diikuti seluruh masyarakat disekitar masjid dengan tarian yang diiringi rebana dan syair puji-pujian. Dalam perjalanannya kesenian tersebut berkembang menjadi kesenian Topeng Ireng[2].
Kamis, 13 Desember 2012
Rabu, 12 Desember 2012
topeng ireng
Spenada–
Kesenian ini mengambarkan tentang kehidupan orang-orang pedalaman
dengan tradisi hidup dengan alam. Gerakan dari berbasic pada kesenian
kobro siswo yang terdiri dari tujuh adegan salah satunya dayakkan yang
diadopsi dari kehidupan orang Kalimantan pedalaman.
Langganan:
Postingan (Atom)


