Kamis, 13 Desember 2012

SEJARAH ETIMOLOGI DAN DAYATARIK TOPENGIRENG

Berdasarkan cerita yang beredar di masyarakat, kesenian Topeng Ireng mulai berkembang di tengah masyarakat lereng Merapi Merbabu sejak zaman penjajahan Belanda[3] dan dilanjutkan perkembangannya tahun 1960-an[2].Pada saat jaman Pemerintahan Belanda, pemerintah jajahan pada masa lalu melarang masyarakat berlatih silat sehingga warga mengembangkan berbagai gerakan silat itu menjadi tarian rakyat[3]. Tarian itu diiringi dengan musik gamelan dan tembang Jawa yang intinya menyangkut berbagai nasihat tentang kebaikan hidup dan penyebaran agama Islam[3]. Setelah itu perkembangan Seni Pertunjukan Topeng Ireng berkembang apabila umat Islam membangun masjid atau mushola, sebelum mustaka (kubah) dipasang maka mustaka tersebut akan diarak keliling desa. Kirab tersebut akan diikuti seluruh masyarakat disekitar masjid dengan tarian yang diiringi rebana dan syair puji-pujian. Dalam perjalanannya kesenian tersebut berkembang menjadi kesenian Topeng Ireng[2].

Rabu, 12 Desember 2012

topeng ireng



Spenada– Kesenian ini mengambarkan tentang kehidupan orang-orang pedalaman dengan tradisi hidup dengan alam. Gerakan dari berbasic pada kesenian kobro siswo yang terdiri dari tujuh adegan salah satunya dayakkan yang diadopsi dari kehidupan orang Kalimantan pedalaman.

TERNAK MACAN DI SANGGAR SENI


Kamis, 29 November 2012

gambaran anak lagi ujian


Tekan Kecurangan, 20 Paket Soal untuk UN 2013

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menggunakan 20 paket soal dalam pelaksanaan ujian nasional (UN) tahun depan. Jumlah ini bertambah banyak daripada pelaksanaan UN di tahun sebelumnya.

"UN berikutnya menggunakan 20 paket soal. Saat ini masih dalam proses pematangan," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, Chairil Anwar Notodiputro, saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (15/9/2012).

Kamis, 22 November 2012

seni topeng ireng (rodat)


Kesenian Ndayakan

Kesenian Rakyat Ndayakan/Topeng Ireng
Kesenian rakyat ini berasal dari sebuah Proses Kreatif  seorang Lurah di Desa Tuksongo yang bernama Lurah Tampir sebutannya. Dahulu pada masa pemerintahan orde baru dia ikut program transmigrasi ke Kalimantan namun karena situasi disana dirasa kurang menguntungkan maka dia dan keluarganya memeilih pulang ke kampong halaman kembali.