Kesenian Rakyat Ndayakan/Topeng Ireng
Kesenian rakyat ini berasal dari sebuah
Proses Kreatif seorang Lurah di Desa Tuksongo yang bernama Lurah Tampir
sebutannya. Dahulu pada masa pemerintahan orde baru dia ikut program
transmigrasi ke Kalimantan namun karena situasi disana dirasa kurang
menguntungkan maka dia dan keluarganya memeilih pulang ke kampong
halaman kembali.
Bermula dari kegelisahannya dalam melihat
kesenian rakyat Subkhanul Muslimin/orang jawa sering mengatakan
Kesenian Gandul muslimin. Dia merasakan kesenian ini hanya duduk dan
bernyanyi tanpa melakukan sebuah gerakan yang dapat dirasakan lebih
menarik dilihat orang.Dia ingin memadukan nyanyian di kesenian subkhanul
muslimin dengan gerakan-gerakan silat yang dinamis dan rancak.lalu dia
dibantu oleh tokoh desa yang lain untuk membuat gerakan dan musik yang
mereka buat dari bunyi-bunyian alat yang ada pada saat itu.di bantu pak
amat Rejo dan teman-temannya Lurah tampir mulai mewujudkan einginannya
dengan alat doran/pacul mereka menggunakannya untuk music,lalu dipilih
klenthing yang ditutup kulit ujungnya untuk perkusi dan Jidor untuk
bassnya.
Sebagai seorang yang menganut ajaran
agama islam mereka juga mempergunakan ilmu agamanya untuk dapat
diimplementasikan dalam wujud kesenian rakyat.Mereka menggunakan
binatang-binatang yang memiliki makna sesuai dengan ajaran islam yang
mereka anut.Mereka memasukkan binatang seperti
Gajah,Warak,Macan,Wedus(kambing), Kerbau, Sapi, Kuda, yang dipergunakan
untuk menambah maraknya bentuk kesenian mereka dan ditambah pula dengan
penari Rodat yang diberi kostum dari daun kelapa yang disebut Janur lalu
diikatkan dan dirangkai untuk dipergunakan untuk penutup aurat dan
penutup dada,lalu mereka juga menggunakan peci untuk topinya yang
ditempeli dengan bulu-bulu bebek /mentok yang berwarna-warni lalu di
beri sebuah untaian gabus telo yang diberi pewarna sehingga semakin
marak bentuk kesenian ini.Pada saat itu kesenian in sangat populer di
sekitar kecamatan Borobudur.
Kata Ndayakan berasal dari kata Ndayak
ditambah akhiran –an, Ndayak berarti banyak dan akhiran -an memiliki
makna menyerupai jadi Ndayakan mempunyai makna menyerupai orang
banyak.Dan memang kesenian ini dalam pertunjukkannya selalu diikuti oleh
orang banyak dan sangat meriah.
Dalam perkembangannya ketika perguruan
tinggi seni memiliki Program KKN( Kuliah Kerja Nyata) mulai dimasukkan
ke desa-desa untuk memberikan pengalaman seninya atau bertukar
pengalaman dengan masyarakat sekitar membuat nama kesenian ini menjadi
hal yang menarik untuk didiskusikan. Akhirnya muncul nama Topeng Hitam
atau Topeng Ireng yang diluncurkan oleh Sekolah Tinggi Seni Surakarta dalam setiap kesempatan dan mereka memberikan usulan itu kepada pemda magelang
sehingga ada nama baru yang sekarang dimiliki oleh kesenian
Ndayakan,Topeng Ireng. Hal ini masih menjadi polemic local di
magelang,ada yang menyebutkan ndayakan ada juga yang menyebut topeng
ireng.walaupun dalam pertunjukannya bentuknya sama, hanya nama yang
berbeda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar